~~~Akhlak Seperti Taman Indah~~~

Dicatat oleh niza22

AKHLAK adalah perkara penting selepas iman. Setiap orang akan 

dinilai berdasarkan budi pekertinya (akhlak). Jika baik akhlaknya, 
maka dia akan dianggap baik. Jika buruk akhlaknya meskipun ada 
melakukan kebajikan, tetap tidak akan dinilai. Oleh itu,orang yang
mempunyai akhlak mulia akan dipandang mulia di sisi Allah. 

Akhlak yang baik hendaklah dipupuk dan dipelihara hingga sebati 
dengan diri kita. Hal ini bagi membolehkan kita mengamalkannya 
dalam kehidupan seharian.Dalam kehidupan manusia, akhlak dapat
diibaratkan seperti bunga dalam sebuah taman. Bagaimana luas dan 
indahnya sebuah taman kalau tidak dihiasi dengan bunga-bungaan, 
maka taman itu tidak jauh bezanya dengan tanah perkuburan. 

Seseorang yang mempunyai badan sihat, gagah, tampan, menarik, 
berilmu, kaya atau berpangkat, kalau mempunyai akhlak buruk dan 
perangai jahat, tidak ubah seperti muka yang cantik, akan tetapi 
mempunyai kesan guris luka berpanjangan. Akhlak mulia hina lahir
daripada jiwa atau hati. Jiwa seseorang itu saja yang akan menjadi
pendorong menggerakkan perbuatan yang baik atau tercela, dan 
keperibadian  yang  disulami dengan  keimanan  dan  akhlak akan 
menerbitkan pekerti mulia.

Allah SWT berfirman, 
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia 
(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi 
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang sombong lagi membanggakan diri.” 
(QS. Luqman:18) -- 

Wahai Hati

Dicatat oleh niza22

Wahai Hati  Dirimu telah dianugerahi... 
Dirimu juga telah di uji... 
Maka segala yang datang dan pergi itu meskipun boleh kau tangisi... 
tetapi hidup ini tidak akan terhenti pada detik hati kita kecewa meratapi... 
Hidup ini tidak akan terhenti hanya kerana kita kehilangan yang disayangi...  

Maka telanilah semuanya dengan rela hati... 
Pasti kau akan merasai betapa di sebalik semua itu, terselit kasih dan rahmat Ilahi...  
Hanya engkau yang perlu mensyukuri... barulah kau mampu merasai... 
Kita telah banyak terdidik dengan kehilangan... Kehilangan orang yang kita sayang... 
Semua yang kita sayang pergi... Arwah atok, arwah nenek, arwah mak cik, arwah kawan2... 
Walaupun kita dan mereka x serapat seperti kita dgn ahli keluarga...
namun kehilangan mereka tetap dirasai kesedihannya...  

Namun Alhamdulillah... kerana semua itu telah mampu mendidik rohani kita...
untuk mengawal batas cinta antara sesama manusia... 
Mengasihi ayah ibu, saudara-mara, sahabat handai, kekasih... 
Semuanya harus mempunyai batasan agar tidak melebihi cinta kpd Allah dan agama...  

Kehilangan dalam hidup ini merupakan suatu ujian praktikal bahawa tiada yang abadi satu pun di dunia ini sama ada yang kita sayangi ataupun yang menyayangi kita... Semuanya akan pergi... 
Kerana lazimnya kehidupan akan berakhir dengan kematian... 

Pertemuan akan berakhir dengan perpisahan... Setiap permulaan pasti ada akhirnya...  
Ya Allah... aku benar-benar telah di uji oleh Mu.. 
Apakah aku benar-benar mampu melaluinya tanpa cinta manusia terhadapku, tanpa cinta orang yang aku cintai? Hambamu ini sedar Ya Allah... Engkau benar-benar mahu menguji hatiku... 
Tidak akan ku tahu betapa lemahnya cintaku kepadaMu sekiranya aku tidak di uji begini...  
Tidak akan ku tahu betapa aku lebih cintakan dunia daripada cinta kepadaMu sekiranya Engkau tidak membawa Siti Bidadari pergi dari hidup dan mataku... Tidak akan ku sedar hakikat diri ini yang sebenarnya Ya Allah...  

Ya Allah... Dalam hidup ini terlalu besar dosaku kepadaMu... Terlalu banyak maksiatku kepadaMu... 
Sedangkan taubat yang ku pohon kepadaMu sering ku mungkiri lewat hati tergores... 
Selalu ku mungkirinya Ya Allah... meskipun sewaktu memohon taubatku itu daku merayu kapadaMu... 
daku menangis menyesali dosaku... tetap juga aku mengulanginya... Hinanya diriku Ya Allah...  

Namun dalam hidup ini... dengan kelemahan dan kehinaan diriku itulah daku tetap memerlukan bantuanMu... untuk teruskan semuanya... kerana ada di antara yang berat yang Engkau timpakan padaku itu tidak mampu untuk ku gagahi dgn secebis kekuatan yang ada padaku...  Terlalu banyak kejadian di dalam hidup ini...
tidak mampu ku gagahinya Ya Allah... Terlalu banyak Ya Allah... 

Lindungilah diriku... Lindungilah hatiku... Lindungilah imanku Ya Allah... Muliakanlah temanku... 
Berikan dia ketenangan dan kebahagiaan... Meski telah hancur hatiku ini kerananya... tetapi semua itu datang daripadaMu Ya Allah... Semuanya datang daripadaMu...  Jadikanlah teman ku itu di kalangan orang yang berbakti kepadaMu, kpd agamaMu... Syukurku di atas pertemuan ini... 

Terima kasih kerana memberikan daku derita ini agar aku lebih menyedari betapa jauhnya telah ku bawa hatiku daripadaMu...  Dan dari rebah cinta ini, Engkau telah memberikan daku satu nikmat yang lebih besar drp nikmat cinta itu sendiri... Terasa betapa Engkau benar-benar hadir di sisiku... Hadir bersamaku... Dekat dgnku... Engkau berikan daku rasa itu buat kali pertamanya dan Engkau telah mengambilnya kembali...  Sesungguhnya Engkau mahu memberitahuku betapa nikmat kembali kepaaMu lebih besar dari nikmat hidup dgn insan yang dicintai...

Daku telah merasakan kerana Engkau sebenarnya mahu mentarbiyyah diriku agar akhirnya aku merasai nikmat atas semua ujian yang telah kulalui...  Terima kasih wahai Tuhanku... Terima kasih Ya Allah Ya Muhaimin... Terima kasih kerana melindungi diriku dan terus mendidikku agar selalu memohon dan merayu kpdMu... Terima kasih kerana Engkau masih melindungi sekeping hatiku yang kotor ini... Kurniakan daku rasa gentar setiap kali mengingatiMu... Hadirkan cinta kepadaMu di hatiku... dan berilah daku kekuatan mengharungi semua ini...  Amin Ya Rabbal a'lamin...

Bergantung, hanya kepada Allah

Dicatat oleh niza22

“Ya Allah peliharalah aku dengan Islam ketika aku berdiri. Peliharalah aku dengan Islam ketika aku duduk. Peliharalah aku dengan Islam ketika aku terbaring. Jangan gembirakan orang yang memusuhiku dan yang menyimpan dengki kepadaku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang ada di Tangan-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh simpanan kejahatan yang ada di Tangan-Mu.” (HR. Al Hakim dalam Mustadrak, 1/525)

Ini adalah doa yang diucapkan oleh amirul mukminin, Umar bin Khattab ra. Kelihatannya sederhana. Meminta perlindungan Allah swt dari segala sisi. Memohon semua kebaikan dan menolak kejahatan. Tapi, curahan kata-kata itu begitu mencakup seluruh bentuk tameng perlindungan yang harus dipintakan seorang hamba kepada Allah swt.

Tapi pernahkah kita merasakan begitu sulitnya merangkai kata-kata dan kalimat dalam sebuah do’a kepada pemilik sifat Ash Shamad, Tempat Meminta. Pernahkah kita merasakan kesulitan merangkum permohonan dan menumpahkannya dalam do’a kepada Yang Maha Kaya. Bukan karena kita yang tidak pandai menyusun kata, karena do’a memang tidak harus dibumbui dengan kata-kata puitis yang justru semakin sulit dipahami. Masalahnya, lidah terasa kelu untuk meminta, dan jiwa sulit sekali dipertemukan dengan bait-bait kata yang menyimpan permohonan sangat dan menyeluruh kepada Allah swt, Yang Maha Kuasa atas segalanya.

Saudaraku,
Tahukah apa rahasia di balik keindahan do’a dan kesempurnaan munajat yang diucapkan oleh orang-orang shalih? Sesungguhnya untaian kata dalam do’a adalah ekspresi dari kedalaman perasaan mereka terhadap apa mereka pintakan kepada Allah swt. Rasa begitu bergantung dan bersandar pada ke Maha Kuasa dan Maha Besaran Allah swt sehingga menjadikan mereka bertenaga dalam mengungkapkan harapannya kepada Allah swt sebagai satu-satunya tempat untuk meminta.

Begitula, untaian kata dan hubungannya dengan letupan serta gelora yang ada dalam jiwa. Rasulullah saw dan para sahabatnya, yang memiliki tingkat ketaqwaan dan ketawakalan sangat tinggi kepada Allah swt, begitu indah mengungkapkan kata demi kata yang mencakup harapannya kepada Allah swt. Para hamba-hamba Allah swt yang shalih itu, mempunyai keyakinan dan iman yang menyala-nyala dalam batinnya, hingga mereka begitu nikmat mengeluarkan rangkaian kata untuk memohon kepada Allah swt secara menyeluruh. Mereka begitu memiliki kedekatan yang intim kepada Allah swt dalam sehari-harinya, lalu mereka begitu mudah berinteraksi, berbicara, berdialog, meminta, memohon, bermunajat, berkeluh kesah, bercerita kepada-Nya.

Saudaraku,
Mari perhatikan lagi, bagaimana bunyi salah satu do’a yang dipanjatkan Rasulullah saw seperti disampaikan oleh Abdullah bin Umar ra. Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan untaian do’a ini ketika pagi dan petang: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan kesalamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah tutuplah auratku. Lindungilah ketakutanku. Ya Allah peliharalah aku dari hadapanku, dari belakangku, dari sisi kananku, dari sisi kiriku, dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu diserang dari bawahku.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Saudaraku,
Seperti itulah permohonan yang dipanjatkan oleh Rasulullah saw. Mohon agar perlindungan Allah swt selalu menyertainya dari semua sudut, dari semua sisi, tanpa celah dan lubang yang tersisa, dan di setiap waktu. Meminta agar Allah swt tidak pernah membiarkannya menjadi incaran dan korban semua kejahatan dari makhluk-makhluk-Nya. Sungguh-sungguh memanjatkan harapan agar Allah swt menyelamatkan agama, dunia dan akhiratnya, menutupi kekurangannya, membentengi ketakutannya.

Pernahkah kita begitu bergantung kepada Allah swt hingga memanjatkan do’a yang sangat menyeluruh seperti ini? Muatan sebuah do’a benar-benar merupakan pantulan dari ketergantungan seseorang yang begitu tinggi kepada Allah swt. Dan seperti itulah jiwa Rasulullah saw, para sahabatnya juga orang-orang shalih. Hingga ketergantungan yang demikian besar itu, seorang shalih dahulu, pernah menuliskan surat kepada saudaranya begitu singkat. Katanya, “Wa ba’du. Jika Allah swt bersamamu, siapa lagi yang engkau takuti ?? tapi jika Allah swt meninggalkanmu, kepada siapa engkau meminta?? Wassalam.”

Merenunglah disini,
Tentang ketergantungan kita kepada Yang Maha Kuat. Tentang nyala keimanan dan keyakinan kita kepada Penguasa Kehidupan. Tentang kedekatan dan keintiman kita kepada Pencipta Kehidupan…

Semakin kita memiliki anasir ketergantungan yang kuat kepada Allah swt seperti itu, kita akan lebih mudah mengucapkan untaian kata permohonan kepada Allah swt. Dan lidah kita, semoga tidak lagi begitu kelu mengutarakan munajat kepada Allah swt. Kita semakin merasakan kenikmatan saat meminta dan bersandar kepada Al Qadir, Yang Maha Kuasa….

Saudaraku,
Soal penanaman nilai ketergantungan kepada Allah swt, dilakukan oleh Rasulullah saw kepada sahabatnya dengan begitu kuat. Diriwayatkan, Rasulullah saw pernah memba’iat para sahabatnya untuk tidak meminta kepada sesama manusia untuk keperluan apapun. Mereka yang dibai’at ketika itu adalah Abu Bakar Shiddiq, Abu Dzar, Tsuban, dan beberapa orang lainnya, radiallahu anhum. Disebutkan dalam shirah, orang-orang yang dibai’at Rasulullah itu kemudian tidak pernah meminta tolong kepada orang lain. Jika tali kekang atau kendali untanya jatuh, ia akan turun dan mengambilnya sendiri dan tidak meminta tolong orang lain untuk mengambilkannya. (HR. Muslim)

Itulah tawakal,
Ketergantungan yang menjadikan seseorang itu tahu bahwa dirinya hanya bersandar dan berharap kepada-Nya. Lalu secara otomatik sangat memelihara diri dari penyimpangan yang dapat menjadi tanda keterlepasannya dari ketergantungannya kepada Allah swt. Dan Allah swt pasti menjaga hamba-hamba-Nya yang sangat bergantung kepada-Nya.¬_

Allah Subhanahu wa Ta’ala

Dicatat oleh niza22

Mendengar nama Allah Subhanahu wa Ta’ala disebut, membuat hati bergetar
Karena itulah nama yang dicinta
Karena Ar Rahman, aku yang semula tiada, menjadi ada
Karena Ar Rahiim, yang memberikan aku pendengaran, penglihatan dan hati
Al Malik sangat baik padaku
Memberi meski belum kuminta
Al Quddus memberi aku makan dan minum
As Salam, Al Mu’min, memberikan aku kehidupan
Waktu shalat adalah yang paling dinanti
Saat itulah aku bisa bertemu dengan Al Muhaimin
Bagian dari rasa syukurku pada Al Aziz
Al Jabbar yang menguasai kerajaan langit dan bumi
Aku menyedihkan hatiku bila bermaksiat pada Al Mutakabbir
Aku senang bila aku ada dalam ketaatan pada Al Khaliq
Lisan ingin selalu menyebut nama Al Bari’
Hati selalu merindukan Al Musawwir, bilakah bertemu ?
Tangan ingin bergerak sesuai kehendak Al Ghafar
Kaki ingin melangkah menuju tempat yang diridhai Al Qahhar
Mata ingin melihat apa yang dihalalkan Al Wahhab
Wahai Ar Razzaq, Al Fattah, Al ’Aliim….
Al Qabid, Al Basith, cinta yang kekal sepanjang masa
Namun cinta pada Al Khafid penuh ujian
Karena Ar Rafi’ berfirman, ”Apakah kamu mengira, kamu akan dibiarkan saja mengatakan ’Kami beriman’, sedang kamu tidak diuji lagi ?”
Al Muzillu menjanjikan hari perjumpaan
Hari disingkapnya segala isi hati dan amalan di hadapan As Sami’
Al Basir akan bangkitkanku dari kubur
Pada hari itu kesedihan dunia berlalu, di bawah naungan Al Hakam
Al ’Adl sering memberi mimpi hikmah padaku
Al Latif memberikan hidayah dengan ragam cara
Tidak ada yang lepas dari pengawasan Al Khabir
Maka kudidik hati agar ikhlas hanya untuk Al Haliim
Begitu banyak hamba yang mencintai Al Azim, Al Ghafur
Mujahidin yang senantiasa bertasbih kepada Asy Syakur
Lantas dimanakah kedudukanku di hadapan Al ‘Aliyy
Akankah Al Kabiir ingat kepadaku di hari pertemuan nanti ?
Ingin menatap wajah Al Hafiz…
Al Muqitu ada di atas Arsy
Yang Arsy Al Hasib dibawa oleh para malaikat yang mulia lagi berbakti
Senantiasa Al Jaliil ada dalam kesibukan
Menatap langit malam ciptaan Al Karim, sungguh indah
Ar Raqib mencintai keindahan
Ayat-ayat kauniyah dan kauliyah Al Mujibu indah dan menakjubkan
Al Wasi’u tidak pernah menganiaya hamba-hambanya.
Al Hakim memberi episode kehidupan kepadaku
Al Wadudu ada kalanya memberi kemudahan atau kesulitan
Tetapi firman Al Majid, “Sesudah kesulitan ada kemudahan.”
Al Basi’ selalu bersama hambanya di dunia dan di akhirat
Ketika aku mencintai Asy Syahid,
Maka aku pun akan mencintai hamba-hamba Al Haqq yang lain
Aku akan mengulurkan tangan pada manusia ciptaan Al Wakiil
Demikianlah Al Qawiyy mengajarkan tentang cinta yang sesungguhnya